BANDAR LAMPUNG – Wakil Menteri Kesehatan, Benyamin Paulus Octavianus dan Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus memproyeksikan Kota Bandar Lampung menjadi percontohan nasional dalam percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC).
Hal itu dikemukan dalam kunjungan kerja Wamenkes bersama Wamendgri di Kota Bandar Lampung, Selasa 14 April 2026.
Kunjungan tersebut bertujuan memastikan sinkronisasi program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan percepatan penanganan TBC secara lintas sektoral.
Dalam kesempatan itu, Wamendagri, Akhmad Wiyagus memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen Pemerintah Kota Bandar Lampung. Menurutnya, dari empat kunjungan kerja serupa di Indonesia, Bandar Lampung menunjukkan kesiapan paling lengkap, terutama dalam penguasaan data teknis dan pemberdayaan kader.
”Bapak Presiden Prabowo menargetkan TBC tuntas dalam tiga tahun. Saya bangga melihat Walikota Bandar Lampung sangat menguasai data teknis. Dengan potensi 10.000 kader kesehatan yang ada, saya optimis rantai penularan di kota ini bisa diputus,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sesuai Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, kesehatan adalah urusan wajib pelayanan dasar.
“Jangan takut memaparkan data. Jika ada 4.000 kasus, maka 20.000 orang di sekitarnya harus diperiksa secara proaktif. Kita tidak boleh hanya menunggu di Puskesmas,” tegasnya.
Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus memaparkan urgensi penanganan TBC mengingat Indonesia saat ini berada di peringkat kedua kasus tertinggi di dunia dengan angka kematian mencapai 125.000 jiwa per tahun.
Pemerintah pusat melalui Kemenkes telah mengalokasikan tambahan anggaran sebesar Rp4,1 triliun khusus untuk penanganan TBC, termasuk pengadaan alat ronsen dan insentif bagi kader kesehatan di tingkat desa/kelurahan.
”Masalah kita adalah kuman dormant atau infeksi laten. Kuman ada di tubuh tapi belum bergejala. Ini bom waktu. Oleh karena itu, strategi kita sekarang adalah Investigasi Kontak. Jika satu orang positif, seluruh penghuni rumah wajib diperiksa dan diberikan Terapi Pencegahan TBC (TPT),” jelas Benjamin.
Walikota Bandar Lampung, Eva Dwiana, menyatakan kesiapannya menjalankan instruksi pusat. Saat ini, Bandar Lampung didukung oleh 31 Puskesmas dan 51 Pustu yang tersebar di 20 kecamatan.
“Sektor kesehatan adalah prioritas kami. Kami terus berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung untuk meningkatkan sarana prasarana. Bandar Lampung siap menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia,” kata Eva Dwiana.
Senada dengan Walikota, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menekankan bahwa kesehatan adalah modal utama produktivitas ekonomi.
Ia melaporkan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan Provinsi Lampung terus meningkat secara signifikan, mencapai 131% pada tahun 2025.
“TBC bukan hanya masalah medis, tapi ancaman bagi produktivitas masyarakat. Dengan penguatan CKG di tingkat primer (Puskesmas), kita menekan angka rujukan ke RSUD Abdul Moeloek agar masyarakat tetap bisa produktif dan sehat,” tutur Gubernur.
Penanganan TBC di Lampung kini melibatkan TNI, Polri, akademisi, hingga jurnalis untuk menghapus stigma negatif di masyarakat.
Pemerintah juga merangkul sektor swasta dan Kementerian PUPR untuk memperbaiki sanitasi dan hunian pasien TBC yang tidak layak, sebagai upaya memutus siklus penularan akibat lingkungan yang buruk. (And)
![]()












Komentar